Menggapai Kebahagiaan

Posted on 28 Maret 2012 oleh

0


BahagiaAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabatku yang dirahmati Allah

Kalimat “kebahagiaan” adalah kalimat yang mulia, bukan kalimat yang hampa tiada makna, bukan kalimat yang mati, tiada arti. “Kebahagiaan”, adalah kondisi kehidupan dan kematian yang didambakan oleh setiap insan, di Barat maupun di Timur, di Utara maupun di Selatan.Namun, di dalam menggapai kebahagiaan ini, ummat manusia (dalam kenyataannya) berbeda-beda. Sebagian di antara mereka telah menggapainya, sebagian yang lain sedang mencari, namun ada pula di antara mereka yang telah mencarinya namun tidak pernah menjumpai, sampai ajal (maut) datang merenggut nyawanya.

  Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengerti tentang seluk beluk ciptaannya, telah memberi petunjuk tentang bagaimana seseorang bisa menggapai kebahagiaan itu, Dalam surat An-Nisa’ 125 Allah Ta’alaa berfirman : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya (way of life-nya) dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Di ayat 125 surat An Nisa’ tersebut, Allah Ta’alaa dengan jelas memberikan tuntunan, bahwa orang yang paling baik kehidupannya (paling bahagia way of life-nya) adalah :
1. Orang yang  selalu  menyerahkan dirinya  secara  penuh  kepada  Allah Ta’alaa.
2. Orang yang selalu berbuat baik (kapan saja dan di mana saja)
3. Orang yang selalu mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim u secara lurus (tidak belok ke kanan maupun ke kiri).

  Orang yang bisa memenuhi tiga hal tersebut di atas, pasti akan menjadi kekasih Allah (dikasihi) oleh Allah, sebagaimana Allah kasih kepada  Nabi  Ibrahim u.  Dan  orang yang dikasihi oleh Allah, pasti ia akan bahagia, kapan saja, di mana saja. Oleh karena itu, Rasulullah saw pernah bersabda :

“Sungguh ajaib kondisinya orang yang beriman itu, sesungguhnya kondisinya selalu dalam keadaan baik dan hal yang demikian, tak mungkin bisa dicapai kecuali oleh orang yang beriman. Ketika ia dalam keadaan yang menggembirakan, ia bersyukur, maka syukur itu baik bagi dia. Dan ketika dalam keadaan yang menyusahkannya, ia bersabar, maka sabar itu baik bagi dirinya.
(H.R. Muslim)

Jadi orang yang bahagia adalah orang yang selalu terkendali oleh Allah Ta’alaa, karena ia telah menyerahkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Setiap insan, pasti akan mengalami suatu kondisi di mana ia harus bersedih, merasa susah dan gundah, namun apabila hal tersebut terkendali oleh Allah Ta’alaa, maka yang bersangkutan akan merasa bahwa bebannya pasti akan diringankan, oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sebaliknya apabila seseorang merasa sedih, gundah, susah dan sebagainya, kemudian tidak terkendali, maka akibatnya akan menjadi fatal, na’udzu billah min dzalik.

Para pakar psikologi mengatakan bahwa kondisi yang seperti itu dinamakan “perplexity“, dan apabila tidak lekas ditangani, yang bersangkutan akan mengalami atau melaksanakan beberapa hal, antara lain : a. Bunuh diri, b. Lari ke Narkotika c. Depresi (dengan beberapa tindakan yang berbahaya untuk dirinya, atau orang lain, atau minimal harus dirawat di rumah sakit. Maka dengan uraian tersebut di atas, dapat dikatakan, bahwa seseorang supaya bisa hidup tenang dan bahagia, dia harus kembali kepada Allah dengan penuh penyerahan diri,  selalu  berbuat baik, dan  mengikuti  jejak  Nabi  Ibrahim.

Kebahagiaan tidak bisa dijamin oleh banyaknya harta kekayaan, sebagaimana tidak bisa dilakukan pula dengan kemiskinan; contoh-contoh kehidupan umat manusia di Barat maupun di Timur telah membuktikan benarnya paradigma tersebut di atas.

1. Christina Onassis
Christina Onassis adalah pewaris satu-satunya dari ayahnya “Onassis”, sang Raja kapal, yang meninggal dunia dengan meninggalkan kekayaan beratus-ratus milyar US Dollar. Maka Christina Onassis adalah wanita terkaya di dunia pada zamannya. Dengan kekayaan yang demikian hebat, ternyata dia tidak bahagia. Ketika meninggal dunia, polisi mendapatkan catatan harian yang ditulis oleh Christina sendiri, di situ dia menyatakan “Aku sedang mencari kebahagiaan, namun aku tidak pernah menjumpainya.” Dia meninggal dalam keadaan tidak wajar, dan polisi menduga bahwa dia meninggal karena bunuh diri, dengan menelan obat yang over dosis.

2. Chung Mong Hun (Korea Selatan)
Chung Mong Hun, adalah Direktur Utama PT. Hyundai Asan, adalah satu sayap perusahaan Hyundai Corporation (Hyundai Grup). Dia juga salah seorang pewaris kerajaan bisnis otomotif yang sangat terkenal “Hyundai”. Bisa dibayangkan betapa besar kekayaan materinya. Namun pada bulan Agustus 2003, dunia bisnis digemparkan oleh peristiwa bunuh dirinya. Dia bunuh diri dengan cara melemparkan diri dan terjun dari lantai 12 kantor Hyundai di Seoul (Korea Selatan).

3. Marimutu  Manimaren (Indonesia)
Marimutu Manimaren, adalah salah seorang bos TEXMACO (salah satu perusahaan besar bertaraf internasional). Dihitung dari kekayaan materi, orang seperti dia, tentunya lebih dari cukup. Namun pada bulan Agustus 2003 yang lalu, media massa meliput peristiwa yang mengejutkan. Dia melemparkan diri dari salah satu hotel di Jakarta Selatan, dari lantai 56. Polisi menduga kuat bahwa dia bunuh diri.

4. Data di Polda Metro Jaya
Data di Polda Metro Jaya tentang orang-orang yang bunuh diri, atau diduga bunuh diri, menunjukkan grafik naik (khususnya untuk wilayah DKI Jaya).
A. Pada tahun 2002, sepanjang tahun, (dari Januari 2002 s/d Desember 2002), atau selama 12 bulan terjadi sebanyak 19 kasus
B. Sedangkan di tahun 2003, yaitu dari Januari 2003 s/d September 2003 atau selama 9 (sembilan) bulan, terjadi sebanyak 116 kasus.

5. Roh Moo-Hyun, (Korea Selatan)
Roh Moo-Hyun mantan Presiden Korea Selatan yang memerintah pada kurun waktu 2003-2008 yang sedang diperiksa karena dugaan korupsi jutaan dolar, menerjunkan diri hingga menemui ajal di sebuah pegunungan pada hari Sabtu, 23 Mei 2009. Seorang bekas pembantunya mengatakan Roh melompat dari satu tebing setelah meninggalkan sepucuk surat.
Data seperti di atas, perlu dicermati dengan mendalam, karena yang bunuh diri bisa diduga dari  orang-orang yang kaya maupun yang miskin.
Dengan pengertian lain, masalah iman atau agama dan penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, adalah masalah kunci, untuk mengatasi kekosongan jiwa, dan solusi satu-satunya adalah kandungan ayat dalam surat al-Fatihah :
“Hanya kepada-Mu, wahai Allah, aku mengabdi, dan hanya kepada-Mu, wahai Allah, aku memohon pertolongan”. (Q.S. Al Fatihah [1] :5)

(Oleh: Abdul Wahid Alwi, MA)

Posted in: Tausyah