Ku Mengetuk Pintu Hati

Posted on 30 Maret 2012 oleh

0


Pintu hati

Langkah gontai sang nenek mengetuk dari satu pintu ke pintu lainnya untuk meminta keikhlasan sebagian rejeki kepada mereka yang berlebih. Mataku tak hentinya memandangi hingga ia terduduk di sebuah taman untuk menghilangkan rasa letihnya. Rasa penasaran membuatku pergi mendekatinya “Sedang istirahat ya nek..?”. “Iya nak..” ucapnya sambil bersandar. “Maaf nek aku mau tanya, apa nenek sudah lama berprofesi seperti ini..?” tanyaku dengan sedikit ragu. Nenek tersenyum padaku “Maksud kamu menjadi seorang pengemis..? kira-kira sudah 2 tahun nak..”. “Ooohhh.. maaf nih nek memangnya nenek tak punya keluarga sehingga nenek harus mengemis..?” tanyaku. “Mereka semua telah tiada bersama datangnya bencana, dan kini nenek hidup seorang diri..” jawabnya bersamaan menetesnya air mata di pipinya.

Aku pun terdiam beberapa saat sambil memandangi wajahnya yang penuh dengan keriput. Namun rasa ingin tahuku membuatku kembali lagi bertanya “Nek bukankah lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah, atau kenapa nenek tidak bekerja..”. Sambil mengusap keringatnya nenek mengatakan “Itu benar nak kalau seandainya fisik nenek masih kuat sudah pasti nenek akan bekerja dan insya Allah tangan nenek akan berada di atas..”. Ku anggukkan kepalaku “Iya juga ya nek.. nah kalau begitu kenapa nenek tidak diam saja dirumah bukankah orang semacam nenek sudah pasti mendapat uluran tangan dari mereka..”. Nenek kembali tersenyum “Ya nenek mendapatkannya dan itu hanya setahun sekali yaitu berupa zakat, apakah perut nenek ini hanya cukup makan sekali saja dalam setahun..?”. Aku pun ikut tersenyum “Nenek bisa saja..”.

Angin berhembus menyapu kulit kami, betapa Maha Besarnya yang menciptakan angin ini. Nenek kemudian melanjutkan perkataannya “Daripada nenek harus berdiam diri menunggu uluran tangan yang tak pasti lebih baik nenek sendiri yang mendatangi, kamu tahu nak yang nenek ketuk itu sebenarnya bukan pintu rumah mereka melainkan nenek mengetuk pintu hati mereka untuk meminta keikhlasan dalam berbagi, tapi tetap saja banyak yang tak peduli..” Aku pun menarik nafas “Aku rasa nek mereka bukannya tak peduli hanya saja sebagian besar dari mereka menganggap orang-orang yang profesinya seperti nenek hanya orang-orang malas, jadi mereka enggan untuk memberi..”.

Nenek menatapku dengan tatapan yang seakan perkataanku salah, lalu ia menggelengkan kepalanya “Tidak semua pengemis itu orang pemalas, ada yang karena keadaan menjadikan dia mengemis, dan perlu kamu ingat Allah akan memberikan ganjaran kepada setiap perbuatan manusia, kamu ikhlas beramal terhadapnya kamu tetap akan mendapat ganjaran meskipun dia seorang pemalas, dan lagipula yang namanya bersedekah itu tidak ada batasan kepada siapa saja harus diberikan, jangan hanya karena kamu beranggapan pengemis itu adalah pemalas menjadikan kamu malas juga bersedekah, ingat itu adalah ajakan syetan untuk kamu menjadi kikir..”

Sinar mentari yang menembus dari celah dedaunan membuatku semakin bersemangat berbicara kepada si nenek “Tapi bukankah lebih baik beramal itu ketempat yang sudah jelas akan diberikan kepada yang membutuhkan, seperti kotak amal di masjid atau badan amal..?”. Lagi-lagi si nenek tersenyum “Berapa kali kamu ke masjid dan mengisi kotak amalnya, lalu berapa kali kamu datang ke badan amal untuk beramal..”. Pertanyaan nenek hanya membuatku menggaruk-garuk kepala “Ya.. ya memang jarang sih mengisi kotak amal masjid apalagi ketempat badan amal belum pernah sama sekali..”. Si nenek menatapku tajam “Nah itu dia.. didatangi saja untuk saling berbagi malas memberi apalagi harus melangkahkan kaki.. ingat betapa beruntungnya saat ini masih banyak yang hilir mudik dan lalu lalang yang meminta sedekah, itu berarti kamu masih punya kesempatan untuk melakukan amal kebajikan, karena suatu saat nanti hartamu tak bisa lagi kamu sedekahkan karena tak ada lagi orang yang mau menerima sedekah, seperti sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Bukhari “Bersedekahlah kamu, maka nanti akan datang satu zaman yang akan kamu jumpai yaitu seorang laki-laki sedang berjalan membawa sedekahnya. Maka berkatalah orang yang akan diberikan sedekahnya (zakatnya) : Jika kamu datang kemarin maka aku dapat menerimanya, tetapi sekarang aku tidak membutuhkan hartamu itu. Maka orang yang akan memberikan sedekahnya (zakatnya) itu tidak mendapati orang yang akan menerima sedekahnya…”. Aku pun tersenyum “Insya Allah nek..”. Nenek kemudian pamit untuk melanjutkan aktifitasnya mengetuk pintu hati, aku hanya memandanginya hingga dia menghilang dari pandanganku.

(Oleh: Jimmy Al Ghazali Indra)

Ditandai: ,
Posted in: Cerpen