Selembar Surat Dari Ibu

Posted on 30 Maret 2012 oleh

0


Selembar surat

Sejuta bintang dan rembulan menyinari bumi dengan lembutnya, menembus kedalam jendela kaca kamar sebuah rumah mewah yang terdapat di dalamnya sepasang suami istri si Rudi dan si Maya yang sedang berbicara: “Mama… Papa ada usul nih..”, “Usul apa Pa..” istrinya menjawab dengan senyuman manis, “Begini Ma.. Ibumu itu sudah begitu lemah dan di rumah ini tak ada yang mengurusnya, Mama dan Papa kan sibuk mengurusi pekerjaan di kantor sedangkan Nita anak kita masih kecil dan dia sendiri diurus oleh babysitter kita Ma.. jadi bagaimana kalau kita bawa saja ke panti jompo biar Ibumu ada yang mengurusnya di sana.. bagaimana Ma..? apa Mama setuju..?”, istrinya kembali tersenyum: “Baiklah Pa untuk kebaikan Ibu kita bawa saja ke panti jompo..”

**********

Mentari pagi begitu hangat menyinari bumi, sebuah mobil berhenti di sebuah panti jompo yang tak lain dan tak bukan keluarga Rudi, masuklah mereka ke dalam “Selamat pagi Bu.. kami datang mau mengantarkan Ibu kami untuk tinggal di sini..”, pengurus panti mempersilahkan mereka masuk ke dalam dan melihat-lihat kamar yang disediakan “Pak Rudi dan Bu Maya tenang saja pokoknya nanti kami akan mengurus semua keperluan Ibu kalian..”, “Terimakasih ya..” sahut Rudi, “Ibu maaf ya Maya menaruh Ibu di sini supaya ibu selalu terjaga.. kami pamit pulang dulu ya Bu..” Maya pamit pulang dengan tatapannya yang dingin, Ibunya hanya tersenyum tulus.

**********

Hari demi hari Ibunya Maya melewati hari-harinya di panti bersama teman barunya yang tak jauh berbeda umurnya, senyum kebahagiaan terukir dibibirnya meskipun hatinya merasa kesepian karena tak adanya keluarga yang disayanginya berada disampingnya, hampir setahun berlalu hanya beberapa kali saja Rudi dan Maya serta Nita datang menemui Ibunya, namun semua itu tak pernah terlintas di hatinya untuk membencinya, hampir tiap hari dia panjatkan doa untuk mereka.

**********

Dering telepon berbunyi mengusik ketenangan Maya “Halo siapa ini..?”, “Saya Bu petugas panti..” dijawab dari kejauhan, “Ya kalau boleh tau ada apa ya..?” Maya begitu penasaran, “Sebaiknya Ibu dan kelurga datang kemari karena ada sesuatu yang penting..” sahut petugas panti, “Baiklah kami akan kesana..” Maya lalu bergegas pergi bersama keluarganya.

**********

Sampai di depan pintu panti terasa keheningan yang amat mendalam “Ada apa ya… terasa sepi sekali di sini..?” Rudi mencoba bertanya, petugas panti kemudian menjelaskan “Maaf Pak Bu… Ibu kalian telah tiada.. telah yang menghadap Yang Maha Kuasa..”, Maya langsung berlari menuju kamar Ibunya “Ibu.. Ibu.. ini Maya Bu.. Ibu bangun Bu..”, Rudi hanya terdiam dan kemudian menoleh ke arah pengurus panti “Maaf Ibu kami tadinya sakit apa ya..?”, pengurus panti mencoba menjelaskan “Dia sehat-sehat saja dan tadi saja baru sarapan bersama kami, lalu dia bilang mau istirahat dan Ibu kalian masuk ke dalam kamar, kemudian ketika kami mau mengajak Ibu kalian jalan-jalan ternyata Ibu kalian telah tiada….”

Suara begitu hening hanya terdengar isak tangis Maya, petugas panti memberikan sebuah surat kepada Maya “Ini Bu… beberapa bulan yang lalu Ibu kalian menuliskan surat dan dia berpesan kalau terjadi apa-apa dengannya surat ini agar diberikan kepada Ibu..”, Maya lantas menerimanya lalu dia membukanya serta membacanya

Teruntuk anakku Maya
Betapa bahagianya Ibu telah mengandung kamu selama 9 bulan dan membesarkan kamu hingga kamu dewasa. Dan kini kamu telah bahagia bersama Rudi dan Nita cucuku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Ibu. Anakku meskipun kamu menitipkan Ibu di panti Ibu tak pernah marah dan benci. karena Ibu tau kamu tak sempat merawat Ibu karena aktifitasmu yang begitu padat. Anakku sebenarnya Ibu mempunyai keinginan untuk melewati sisa-sisa umur Ibu bersama kalian tapi Ibu tak ingin menggangu aktifitas kamu dan akhirnya Ibu simpan saja keinginan Ibu. Anakku meskipun begitu Ibu selalu mendoakan kalian dan Ibu selalu bermohon kepada Allah. supaya kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan sampai akhir hayat kalian.
Salam sayang untuk kalian

Maya terkulai lemah dan bersimpuh di jenazah Ibunya, begitu juga Rudi “Maafkan kami Bu..”

(Oleh: Jimmy Al Ghazali Indra)

Posted in: Cerpen