Antara Ubi dan Telur

Posted on 12 Oktober 2013 oleh

0


Apa yang terjadi jika sebutir ubi dan sebutir telur dimasukkan ke dalam air mendidih? Apa kedua benda itu keluar dari panci panas dalam keadaan yang sama dengan keadaan sebelum digodok? Air mendidih mengubah ubi dan telur itu. Namun perubahan yang terjadi pada kedua benda itu sangat bertolak belakang. Setelah digodok telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi menjadi lembut. Kedua benda itu berada dalam panci yang sama dan air mendidih yang sama, namun reaksi mereka berbeda. Telur akan muncul dalam keadaan keras, sedangkan ubi akan muncul dalam keadaan lembut.

Dalam hidup ini ada masa dimana kita harus masuk ke dalam panci yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan. Dalam musibah kita merasakan betapa sakit dan nyeri digodok dalam air mendidih. Musibah dan penderitaan bisa terasa sangat menyakitkan bagaikan menusuk tulang sumsum dan hati. Apalagi ketika musibah demi musibah datang menimpa bagaikan tak ada habisnya. Kita seperti terhempas lemas, sambil menunduk dan menarik nafas panjang kita bertanya lirih, “Oh, Tuhan, mengapa ini harus terjadi?”. Namun kenyataan adalah kenyataan. Musibah itu sudah atau sedang terjadi.

Jadi yang lebih mendesak bukanlah persoalan mengapa musibah ini terjadi, melainkan bagaimana menghadapinya. Bagaimana bisa melewati dan mengatasi musibah ini. Bagaimana bisa survive dalam dan dari musibah ini.

Jika musibah dan penderitaan merupakan ibarat digodok dalam panci, soalnya adalah bagaimana kita bisa ke luar dan dalam keadaan bagaimana kita akan ke luar dari panci itu. Apakah kita akan keluar sebagai telur ataukah sebagai ubi? Di sinilah terletak dampak yang paling mendasar dari suatu penderitaan atau musibah.

Dari waktu ke waktu tiap orang mengalami penderitaan dan musibah. Tetapi cara orang ke luar dari penderitaan atau musibah berbeda-beda. Ada orang yang ke luar dari musibah dalam keadaan yang sangat tertekan. Mukanya selalu suram, ia menyendiri. Hidupnya menjadi pahit dan getir. Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia menjadi keras. ia ibarat telur yang setelah ke luar dari air mendidih menjadi keras. Sebaliknya, ada orang yang setelah ke luar dari musibah justru menjadi bijak dan matang. Ia merasa damai dengan dirinya. sikapnya hangat dan ramah. Ia tersenyum dan menyapa. Ia menjadi lembut. Ia ibarat ubi yang setelah digodok justru menjadi lembut.

Dampak itu bisa begitu berbeda, sebab pandangan dan ketahanan orang terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda.

(Oleh : Inspiration Motivation)