Zahra Tetap Sayang Ayah

Posted on 28 November 2013 oleh

0


Akbar adalah seorang yang super sibuk dengan urusan kantornya. Saking sibuknya, ia terkadang lupa memberikan waktu sejenak buat keluarga. Berkali-kali putri semata wayangnya, Zahra, ingin bermanja dengan ayahnya, tetapi sering tidak terlaksana.

Padahal, gadis berusia lima tahun itu sudah sangat kangen dengan ayahnya. Sang ibu pun harus memberi pengertian kepada Zahra tentang kesibukan ayahnya itu.

Suatu sore, di tengah kesibukan Akbar mengurusi berkas-berkas kantor, Zahra mendekatinya, seraya memohon untuk dibacakan cerita bergambar. “Maaf Zahra, ayah sedang sibuk. Dibacakan sama ibu saja, ya?” ujar Akbar.

Akan tetapi, Zahra tetap meminta sang ayah untuk membacakannya. Berkali-kali ia memohon dan mengharap ayahnya mau meluangkan waktu untuknya. “Ayah kan sibuk dan jarang punya waktu buat Zahra. Jadi, selagi ayah ada di rumah, ayolah, Yah. Zahra ingin ayah yang membacakannya,” harapnya.

Namun, Akbar tetap tak acuh dengan keinginan putrinya. Karena sering didesak, Akbar pun mulai hilang kesabarannya. Ia emosi. Ia mendorong putrinya sambil berkata dengan nada tinggi. “Zahra, ayah bilang nggak bisa. Ngerti nggak?” bentaknya.

Menyaksikan ayahnya semakin emosi, Zahra pun segera berlalu menuju pintu. Sesampainya di pintu, ia memandangi ayahnya dari belakang dengan mata berkaca-kaca. “Zahra sayang sama ayah,” ujarnya, kemudian menutup pintu ruang kerja ayahnya.

Tanpa menghiraukan, Pak Akbar kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah selang beberapa saat, terdengar suara keras diiringi suara teriakan di depan rumah. Akbar pun bergegas mencari sumber suara. Ia kaget bukan kepalang. Ia menyaksikan anaknya, Zahra, tergeletak di tengah jalan dengan darah yang terus mengalir akibat tertabrak seorang pengendara sepeda motor yang kemudian melarikan diri.

Akbar segera membawa Zahra ke rumah sakit dengan mobilnya. Ia masih sempat mendengar suara Zahra yang meminta supaya dimaafkan karena sikapnya terhadap ayahnya tadi. Namun, kondisi Zahra yang demikian parah, nyawanya tak tertolong.

Akbar begitu menyesal. Ia memaki dirinya sendiri. Ia menyesali dirinya yang bodoh karena telah lalai. Dan akibat kelalaiannya, anaknya pun pergi untuk selama-lamanya. Ia tak menyangka, seandainya ia membacakan buku cerita untuk Zahra, mungkin bukan seperti ini kejadiannya. Ia sangat menyesal, tetapi penyesalannya sudah terlambat.

(Oleh : Ismail Syakban)

Posted in: Cerpen