Orang-orang Yang Mengusir Tuhan

Posted on 22 April 2014 oleh

0


Pengemis

Aku masih menyusuri Jalan Jenderal Sudirman di Palembang. Entah, sudah berapa perempatan jalan kutemui. Sejak keberangkatanku dari Kilometer 12, sampai simpang Rumah Sakit Charitas, aku tak sempat lagi menghitung berapa banyak perempatan atau tikungan jalan. Yang pasti, pada setiap perempatan dan tikungan, selalu saja kutemui beragam bentuk kemiskinan. Ada puluhan bahkan ratusan kelaparan di sana.

Aku turun, tepat di depan pusat pembelajaan International Plaza Palembang. Kunaiki jembatan penyeberangan. Oh, ternyata masih banyak lagi kutemui kelaparan lagi. Kemiskinan masih menempel di setiap dinding kota. Di setiap jembatan penyeberangan. Bukan di perempatan dan tikungan ternyata. Di jembatan penyeberangan banyak lagi kepedihan, keterbelakangan, dan ketertindasan. Sekeping uang logam rupiah kukeluarkan dari kantong. Sebuah tangan kurus dari wajah lusuh itu menerima dengan penuh harap. Dari mulutnya, kudengar kemudian tiga kali ucapan hamdalah, diiringi doa buat kesejahteraan bagi setiap pemberi.

Aku terus berjalan. Membeli beberapa keperluan yang mesti kumakan hari ini, nanti malam dan esok hari bersama Pustrini, isteriku. Pada setiap langkah, aku dan isteriku masih merasakan, betapa beruntungnya aku ketimbang mereka yang ada di jembatan penyebarangan. Aku dan isteriku masih merasa beruntung dengan kehidupan kami jalani, sekalipun, kami juga hidup dalam keterbatasan. Betapa tidak? Baru beberapa menit yang lalu, kujumpai potret umat yang hidup dalam ketertindasan. Mereka hidup dalam lingkaran kemiskinan dan kepedihan, yang belum jelas semua itu akan usai. Mungkin aku tidak akan sanggup, jika Tuhan memberiku nasib seperti mereka. Tetapi, kenapa kenikmatan yang sudah kuterima sering kubalas dengan pengingkaran?
Ketika siang menjelang, mulutku berkata tentang kebesaran Tuhan. Ketika sore tiba, aku tidak jarang meninggalkan Tuhan. Aku sering berkata-kata tentang Tuhan. Tetapi kakiku masih berpijak di alam kebesaran Setan. Badanku tertunduk pada kekuasaan Tuhan. Tetapi batinku masih sering meng-agungkan setan. Mestikah aku harus tetap duduk dan bersujud di atas sajadah, sementara sajadah itu pula sudah menjadi tempatku membuang tinja?

kerongonganku mulai mengering. Aku singgah pada sebuah warung. Hanya sebentar. Datang tiba-tiba seorang pengemis buta. Ia dituntun anak laki-lakinya. Telapak tangannya terbuka lebar. Tentu mengharap logaman rupiah. Aku tidak langsung memberinya. Sebab, posisiku jauh dari tempat pengemis itu. Aku pikir, pengemis itu akan berpindah pintu, setelah menerima logaman rupiah dari orang yang paling dekat dengan pintu, tempat munculnya pengemis itu.

“Aaah, sudah sana! Dasar pengemis buta. Tidak ada uang buat kalian. Kalau mau makan ya kerja! Sana..sana pergi!” Seseorang yang aku kira akan memberi uang, justeru sebaliknya. Orang itu mengusir pengemis dengan menimpali dengan kalimat yang tidak bersahabat. Beberapa menit pengemis itu aku tunggu. Kalau-kalau saja, ia muncul dari arah pintu yang dekat dengan tempt aku duduk. Ternyata tidak. Kedua pengemis itu lenyap bersama kekecwaannya, karena tidak memperoleh uang.

Pukul empat sore. Aku berkemas pulang. Dalam bis yang kutumpangi, kembali datang dua orang anak kecil mengalunkan lagu. Not dan ritme musiknya tidak jelas.

Hanya dengan puluhan tutup botol yang dirangkai dengan kayu, lalu menjadi alat musik. Kedua anak itu bernyanyi, untuk mendapat sumbangan uang dari para penumpang. Aneh, potret kepedihan itu sempat menjadi bahan tertawaan bagi beberapa penumpang. Mereka tertawa, sudah tentu karena kedua anak itu bermain musik tanpa nada dasar. Sehingga yang muncul bukan alunan lagu yang enak dinikmati, namun sebaliknya, suara tanpa irama yang kemudian terdengar. Mereka pun tertawa, sembari menahannya dengan menutup mulut dengan telapak tangan mereka. Hampir saja aku ikut tertawa. Tetapi, aku segera mengurungkan niat itu. Sebab, aku kemudian ingat dengan pesan kiai Dalhari, guru ngaji yang dulu selalu wanti-wanti, agar aku jangan sampai mudah-mudah mentertawakan orang yang sebenarnya tidak mesti ditertawakan.

“Kalau kamu tidak mampu memberi sesuatu pada orang lain yang sedang memintamu, jangan kemudian kamu mentertawakan atau mengejeknya. Justeru kalau diam, itu akan lebih baik dari pada kamu mencibirkan mereka.”

Belum sempat aku mengeluarkan logaman rupiah, seorang perempuan yang duduk di sampingku menyela pembicaraan, seolah ia melarangku untuk memberi logaman rupiah pada kedua anak itu.

“Dik, nggak usah dikasih. Nanti malah tambah malas mereka. Lagi pula itu kan sudah nasib mereka harus begitu.”
“Bu, ma’af, kata kiai saya dulu. Berilah sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit nilainya.”
Aku tidak lagi memperhatikan wajah perempuan di sampingku. Sebab, aku harus segera turun di sebuah halte.

**********

Aku baru saja memasuki pintu gerbang sebuah komplek. Rumahku ada di belakang kompleks ini. Sehingga, untuk sampai ke rumahku, aku harus lebih dulu melewati beberapa tikungan dan belokan dari gedung-gedung yang mewah. Belum lagi sampai di rumah. Kujumpai lagi dua bocah berkerudung. Salah satu diantaranya mengapit sebuah map. Seperti orang yang meminta sumbangan dari rumah ke rumah.

Tepat dugaanku. Keduanya adalah wakil dari sebuah Yayasan Sosial di Palembang. Mereka datang dari pintu ke pintu untuk mendapat sumbangan. Pada setiap rumah, kedua bocah berkerudung itu menyodorkan formulir dan surat tugas ke setiap pemilik rumah yang berhasil mereka jumpai.

“Waduh, dik, bapak sedang tidak ada di rumah. Jadi lain kali saja, ya dik,” Seseorang penghuni rumah di kompleks itu yang berhasil mereka temui mengelak untuk memberi sumbangan.
“Aduh, gimana ya, saya cuma pembantu. Saya mesti nunggu nyonya dan tuan pulang. Saya tidak punya uang.”
“Bi, bilang sama mereka, kita tidak bisa memberi sumbangan. Kita lagi tak ada uang!”

Harapan kedua bocah itu makin pudar untuk mendapat tambahan biaya bagi Yayasannya. Sebab dari rumah ke rumah, yang mereka temui hanya ucapan ma’af. Sementara, ucapan ma’af, sudah pasti bukan yang mereka harapkan. Lagi pula ucapan ma’af tidak akan bisa dibelanjakan untuk kesejahteraan anak-anak terlantar di Yayasan.

Kejadian serupa, sebenarnya bukan saja baru kujumpai hari ini. Sebab jauh sebelum aku menikah dengan Pustrini, peristiwa serupa hampir sering kutemui.

Bahkan, tiga hari sebelum ini, sudah tak terhitung lagi peristiwa yang sama kusaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri. Mungkin, esok atau lusa, aku akan kembali menjumpai lagi orang-orang yang membuang kesempatan berbuat baik. Aneh, kenapa mereka sanggup mengusir peluang berbuat baik? Mungkinkah mereka sudah merasa banyak kebaikan di mata Tuhan? Atau karena mereka juga tidak mengetahui kalau Tuhan selalu menjelma pada setiap kemiskinan, ketertindasan, kelaparan, keterbelakangan dan berada pada setiap kaum lemah?

Sampai di rumah, Pustrini, isteriku menyambut kedatanganku. Tidak seperti biasa. Hari ini, Pustrini nampak heran dengan guratan wajahku sore itu.

“Bang, kenapa, Abang terllihat murung? Biasanya nggak begitu? Lelah sekali, ya Bang?” Tanya isteriku sembari menyedu segelas teh pahit di meja.
Aku tak langsung menjawab. “Ya, lelah. Capek dan banyak cerita.”
“Cerita? Cerita apa?”
“Yah, cerita tentang hidup.”
“Aah, sudah lah Bang, jangan berpikir yang berat-berat dulu. Nanti kalau sudah hilang lelahnya, baru Abang cerita.”
“Aku ini manusia biasa, Tri. Ada saatnya salah, ada saatnya lupa. Makanya aku ingin cerita sekarang.”
Pustrini hanya diam. Seolah menunggu mulutku terbuka kembali untuk menceritakan yang kujumpai di jalan tadi siang.
“Tri, aku di pasar tadi ketemu banyak orang.”
“Ya wajar to, namanya juga di pasar,” jawab Pustrini enteng.
“Ini bukan orang sembarang orang, Tri.”
Kening Pustrini mengerut. Ada tanda tanya di sana. “Orang aneh yang Mas maksud itu orang yang bagaimana, sih? Apa mereka tidak punya hidung? Atau….”
“Bukan, bukan itu, Tri. Tetapi orang-orang aneh itu orang-orang yang suka mengusir Tuhan.”
“Kok, mengusir Tuhan? Apa bukan sampean yang aneh itu, to Mas? Tuhan kok diusir?”
“Ya enggak lah! Orang-orang yang kujumpai tadi siang itu memang orang-orang yang mengusir Tuhan!”
“Tuhan nggak bisa dilihat, kok malah diusir! Aneh! Sudah lah nggak usah sok jadi filsuf! Pusing aku, Bang…”
Aku tersenyum kecil. Ternyata Pustrini juga kenal dengan istilah filsuf. Gadis desa seperti Pustrini, kenal dari mana istilah filsuf?
“Sudah, kalau mau cerita ya cerita! Aku ini mau masak, Bang!”
“Nah, akhirnya kau juga ingin tahu juga, kan?” kataku meledek Pustrini yang makin penasaran.
“Begini, lho, Tri. Kata Kiai kita dulu, Tuhan itu menjelma ke setiap bentuk ketertindasan, keterbelakangan, kemiskinan dan berpihak pada kaum lemah. Bahkan, kata Kiai kita juga, orang miskin yang datang ke rumah kita lalu meminta sumbangan, itu bentuk kepedulian Tuhan kepada kita, bahwa kita masih diberi peluang berbuat baik oleh Tuhan, Ya kan?’
“Iya, Lalu?”
“Nah, di pasar tadi, banyak kesempatan berbuat baik dibuang. Orang-orang mengusir pengemis, pengamen. Dan di sebelah rumah kita ini, di kompleks depan sana, dua orang bocah yang meminta sumbangan untuk yayasan sosial juga diusir secara halus….”
“Lalu, apa hubunganya dengan mengusir Tuhan tadi, Bang?”
“Ya, jelas, kalau mereka membenci ketertindasan, kemiskinan, dan kehausan dan kelaparan, itu kan sama saja mereka telah mengusir Tuhan. Lalu mereka juga membuang kesempatan berbuat Baik yang diberikan oleh Tuhan ke rumah mereka, kan sama saja mengusir Tuhan juga, betul, nggak?”
“Assalamu’alaikum?” Pembicaraanku terhenti ketika dari arah pintu depan terdengar ucapan salam. Tanpa isyarat, Pustrini langsung menyongsong tamu itu.
“Bang! Bang Im!” Pustrini memanggilku.

Di depan pintu, dua sosok bocah yang kujumpai di lorong kompleks itu ada di hadapanku. Mereka datang untuk meminta sumbangan kepadaku. Tuhan hadir ke rumahku. Terima kasih Tuhan. Sekalipun seribu lagi kau hadirkan orang miskin ke rumah kami, atau kau perlihatkan kepada kami ratusan bentuk ketertindasan dan kelaparan, pasti kebaikanmu tidak mungkin bisa terbalas hanya dengan membantu mereka dari kemelaratan dan kelaparan. Tetapi, sekali lagi, terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi peluang bagi kami untuk berbuat baik.

 

(Oleh : Imron Supriyadi)

Posted in: Cerpen