Bukan Mimpi

Posted on 25 Mei 2014 oleh

0


persahabatanindahnyawordpresscomRaga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka hatinya. Sebenarnya dia tak pernah ingin meninggalkan Ajeng. Hanya saja keputusannya untuk memutuskan hubungan yang telah dijalin hampir tiga tahun itu tak bisa diganggu gugat. Sholat istikharah yang dia lakukan semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.

Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.

Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namun cincin itu kini tinggallah kenangan kisah cintanya. Ajeng, terasa sekali cinta dia hatinya. Dia tahu secara pasti perasaan Ajeng yang terluka saat dia memutuskan tali pertunangan. Namun entah mengapa kemantapan hatinya telah mengalahkan logika. Logikanya, Ajeng adalah wanita sempurna yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun bisik hatinya harus meninggalkan wanita secantik Ajeng.

“Ga … udah jam tujuh tuh, come on ngantor…” suara Aryo menggelegar di depan pintu kos Raga.
“Yoi” sahut Raga sambil menyambar tas pinggang yang digantung dekat pintu kos.
Aryo menatap Raga dengan tatapan janggal.
“Kenapa Yo?” tanya Raga.
“Ada yang beda dari kamu, Ga”
“Apaan?”
“Makin kurusan dan acak-acakan. Sepertinya dulu kamu sering pakai minyak wangi sekarang pakaianmu penuh minyak dan oli”
Raga tertawa mendengar komentar teman satu kosnya. Aryo tahu pasti kondisi emosi Raga semenjak putus tunangan dengan Ajeng. Lelaki itu makin tidak memperhatikan penampilan dan mudah marah. Aryo bisa merasakan kesepian hati kawannya itu. Tapi anehnya setiap kali dikenalkan dengan wanita, Raga selalu bersikap acuh. Seakan dia tidak memikirkan untuk memliki kekasih pengganti Ajeng.
“Udah abis minyak wanginya. Males beli lagi” sahut Raga.
“Ga … you should open your heart for love”
“Not now”
Raga tak peduli sekian banyak usaha teman-temannya untuk membuat Raga kembali seperti dulu. Aryo menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya itu. Benar-benar berbeda dengan Raga yang dikenalnya dua tahun lalu.

Dua tahun lalu, saat mereka baru saja diterima magang di perusahaan di Jakarta. Saat itu Raga berulang kali mengungkapkan betapa beratnya dia berpisah dengan Ajeng yang bekerja di Madiun, Jawa Timur. Raga bukan tipe lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Cintanya pada Ajeng tumbuh saat mereka sibuk mengerjakan tugas akhir. Kesetiaan dan perhatian Ajeng pada Raga membuat lelaki itu benar-benar jatuh hati pada Ajeng.

“Ga, kalau memang hati kamu sudah mantap untuk meninggalkan semua kenangan tentang Ajeng ya jangan mencoba mengingat-ingat kembali. Itu akan menyakiti kamu”
“Ada hal yang masih jadi satu tanda tanya besar Yo… hanya saja aku nggak tahu harus tanya ke siapa”
“Tentang?”
“Seseorang”
“Hmm… cewek mana Ga?”
“Wanita yang hadir di mimpiku saat istikharah pertamaku”
“Apa cewek itu kukenal”
“Iya Yo… kemarin aku ketemu dia. Rasanya hatiku sedih banget melihat dia menangis”
“Menangis?”
“Iya. Padahal biasanya dia menyapa aku dengan senyum khasnya. Tapi kemarin dia tampak sangat sedih”
“Wah-wah sepertinya seru nih ceritanya”
“Entahlah Yo, tapi nanti saja aku ceritakan di kantor. Yuk berangkat”

Aryo penasaran dengan wanita yang diceritakan Raga. Jika wanita itu dikenal, maka besar kemungkinan adalah orang kantor. Memang Raga sangat ingin memilki hubungan cinta tanpa terbatas jarak. Namun wanita mana yang sanggup memikat lelaki setampan dan sesempurna Raga. Apalagi wanita di kantor yang belum menikah juga bisa dihitung dengan jari.

Baru saja Raga memarkir motornya, dia melihat sosok wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Wanita itu sedang berbincang akrab dengan lelaki berperawakan tinggi. Sampai akhirnya wanita itu masuk mushola sementara lelaki berperawakan tinggi segera menuju ke tempatnya berdiri.
“Apakah mungkin mimpi itu adalah petunjuk dari Allah untukku? Mungkinkah wanita itu yang kelak menjadi isteri dan ibu dari anak-anakku?” pikir Raga.
“Ga, Yo… baru dateng?” tegur Indra.
“Iya…” jawab Aryo, “ Sudah selesai dhuha, ustadz?”
“Alhamdulillah.” Indra tersenyum dengan senyuman manis yang mungkin bisa memikat para bidadari surga. Kekhusyukan Indra dalam beribadah membuatnya mendapat julukan ustadz dari teman-teman kantornya.
“Rana sering dhuha di mushola?” tanya Raga.
“Iya…”jawab Indra.
“Ndra, kamu cocok banget tuh sama Rana. Sama-sama khusyuk” sahut Aryo.
Indra tersenyum tersipu, “Bisa saja. Aku gak ada apa-apanya dibandingkan Rana. Shaum senin-kamisnya enggak pernah bolong, dia juga nggak pernah bolos ngaji”
“Ngaji?” Raga menatap Indra, “Ngaji di mana?”
“Pengajian kantor dua kali seminggu setelah pulang kerja” kata Indra, “Lho bukannya dulu, kamu juga ikutan ngaji Ga?”
“Dulu banget” Raga meringis.
“Ya sudah ayo kita ngantin” kata Aryo.
“Aku langsung ke kantor ya Yo” kata Raga.
“Shaum?” Indra menyelidik.
“Insya Allah” jawab Raga.
“Raga ini enggak pernah putus juga shaum senin kamisnya” bela Aryo.

Indra menatap kedua sahabatnya. Memang dari awal dia mengenal Raga dan satu kontrakan dengan lelaki itu, tak pernah dia jumpai Raga meninggalkan puasa senin-kamisnya. Sampai saat ini ternyata Raga masih istiqomah menjaga ibadahnya satu itu. Meskipun pekerjaannya lebih menuntut dia untuk banyak bekerja di lapangan, namun belum sekalipun Raga mengeluhkan diri dan meninggalkan shaum sunah itu.

“Semangat pagi Mbak Aisya …” tegur Raga ketika masuk ruangan kantornya.
“Met pagi Raga….” Jawab Aisya.
“Dingin banget nih ruangan. AC-nya baru diservis ya?” Raga melepas wearpack yang dikenakannya.
“Enggak tuh. Mungkin karena lemakmu sudah berkurang makanya dinginnya kerasa”
Raga tersenyum kecut, “Memangnya kelihatan banget ya Mbak kurusnya?”
“Iya Ga…mesti nyari cewek yang bisa ngurus kamu tuh”
“Belum nemu ceweknya Mbak”
“Masa’ kalah sama Rana”
“Kenapa Mbak dengan Rana?”
“Nah gosipnya kan dia dekat sama Pujo. Dan sepertinya memang mereka benar-benar ada hubungan special. Rana selalu tersipu kalau aku menyebut nama Pujo di depannya”
“Rana? Kirana Listya Kusuma?”
“Nah iya, teman seangkatanmu saat magang”
“Rana? Gak mungkin”
“Lah kenapa gak mungkin Ga?”
Raga menatap wanita berparas manis di hadapannya, “Gak mungkin Rana mau pacaran”
“Mereka memang enggak pacaran Ga, ya ditunggu saja undangannya”
Hati Raga mencelos. Baru saja dia merasa ada perasaan aneh saat Indra jauh lebih dekat dengan Rana, tapi kabar mengejutkan justru datang dari Aisya. Rana telah memiliki seseorang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya dulu aku pernah berniat nyomblangin kamu sama Rana. Tapi Rana sangat benci anak tunggal. Dia paling gak suka sama cowok yang manja“
“Mbak Aisya nyomblangin aku sama Rana? Ngawur banget”
“Iya, syukurnya Rana juga menolak untuk kucomblangkan denganmu Ga”
“Ya iyalah Mbak, kami tuh beda banget”
“Sebenarnya kalian tuh cocok banget menurutku. Rana dan kamu tuh sama-sama pinternya. Belum lagi shaum sunahnya gak pernah bolong, sama seperti kamu Ga”
Raga merasakan getaran kecil dihatinya, mengingatkan pada mimpi usai sholat istikharah pertamanya. Justru paras Rana yang muncul ketika dia dilemma meneruskan hubungan dengan Ajeng. Entah apa itu merupakan petunjuk dari Allah. Mengapakah kenyataanya jauh berbeda. Hatinya belum bisa mencintai Rana dan Rana pun telah memiliki seseorang untuk dicintai.
“Mbak Aisya tahu sejauh apa hubungan Rana sama siapa tadi?”
“Sama Pujo?” Aisya menyelidik, “Kok sepertinya kamu penasaran banget”
“Ah enggak juga, mungkin hanya perasaan Mbak Aisya saja”
Aisya menggelengkan kepala menatap Raga, “Kalian memang cocok”
“Kalian?”
“Kamu sama Kirana”

“Seandainya saja Mas Raga belum punya tunangan”
“Memangnya kenapa Dek?” selidik Raga.
“Beruntung banget wanita yang jadi isterinya Mas, sudah ganteng pinter pula”
Raga tertawa lebar. Sikap polos Rana seringkali membuat hati Raga tersentuh.

“Mas Raga, Rana nitip kondangan buat Firman ya…” Rana menghampiri meja Raga
“Nah aku kan gak mudik”
“Pokoknya Rana nitip ke Mas Raga”
“Okelah”
“Wah Firman dah merit yo…kamu kapan Ga?” sindir rekan kerja Raga yang duduk berhadapan dengannya di ruangan.
“Mas Raga nungguin Rana, Mas” sahut Rana
“Wuih ditembak tuh Ga” sahut lelaki yang tampak akrab dengan Raga itu.
Raga tersenyum simpul.

“Ga, melamun lagi deh…” tegur Aisya.
“Eh sorry Mbak” Raga tersipu.
“Ya semoga kamu segera menemukan wanita terbaik untuk menjadi pendampingmu”
“Amin…Mbak Aisya juga ya”
Aisya tersenyum manis, “Tahu enggak Ga…aku selalu membayangkan kamu dan Rana itu bisa jadi sepasang kekasih. Entah mengapa aku selalu merasa kalian sangat serasi”
“Wanita selalu pakai perasaan”
“Haha…”
“Logikanya kan mustahil Mbak. Mau ditaruh dimana tuh cowoknya Rana”
“Ya tetep di situlah. Tapi kamunya yang disamping Rana”
“Hahaha ….”
=====================================================

Masih terasa sesak di dada, tangis pun belum reda. Rana menengadahkan tangannya usai melaksanakan dhuha. Entah mengapa hatinya mencelos setiap kali bertemu dengan Raga. Seakan menanti sebuah keajaiban datang.

“Hamba sangat takut untuk mencintai ya Allah. Berikanlah petunjukMu dalam setiap langkah ini. Sejak berakhirnya hubungan hamba dengan Mas Herdyan semua terasa begitu menyesakkan. Meskipun hamba tahu Herdyan bukanlah lelaki yang baik untuk mendampingi kehidupan hamba. Namun yang membuat hamba meragu adalah kehadiran Mas Raga. Hamba sungguh takut mencintai Mas Raga, hamba takut terluka. Hamba tak ingin menangis lagi, hamba tak ingin sendirian. Pilihkanlah jodoh terbaik untuk hamba. Jika memang Mas Raga adalah seseorang yang Kau jadikan jodoh hamba, maka dekatkanlah kami atas rahmat dan ridho-Mu. Hamba serahkan segala urusan ini kepadaMu. Hanya kepadaMu hamba berharap dan meminta pertolongan. Berikanlah petunjukMu yaa Rabb. Amin yaa rabbal alamin”

Tiga bulan semenjak hubungannya dengan Herdyan berakhir membuat emosi Rana tak terkendali. Tak jarang seharian dia menangis. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, dan ketika terbangun semua akan baik-baik saja. Namun kenyataanya setiap kali dia terluka ketika melihat kemesraan status Herdyan dan pacarnya di facebook. Jika memang Herdyan menginginkan sentuhan sungguh Rana tak mampu memberikannya. Wanita seperti Rana lebih memikirkan aturan agama daripada menuruti hawa nafsu. Allah tentunya tak akan suka hambaNya yang selalu mendekati zina. Dan bagi Rana cintanya pada Allah akan mengalahkan segalanya. Janji Allah adalah wanita baik untuk lelaki yang baik (QS An Nuur : 26). Dan Allah sekali-kali tidak menyalahi janjiNya (QS Al Hajj:47).
Rana memang tidak pernah jalan berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya. Rana hanya ingin Allah selalu meridhoi tiap langkahNya. Bahkan saat dia bertemu dengan Herdyan, tak pernah lelaki itu diizinkan berjalan di sampingnya bahkan untuk memegang tangannya. Mungkin akan terlihat sombong dan sok jual mahal, namun Rana hanya ingin menjalankan perintah agamanya.

Kali ini airmata itu kembali jatuh saat Rana membaca ayat Al Qur’an. Surat Al A’raf, surat ketujuh pada juz sembilan adalah jawaban yang diberikan Allah atas istikharahnya. Sebelumnya dia sangat takut untuk menjalankan sholat tersebut. Sungguh, hatinya teriris pedih. Hanya pada Allah dia curahkan segala kebuncahan dan kesendirian hatinya. Namun keyakinan akan janji Allah menutupi kesakitannya.

Perpisahannya denga Herdyan adalah kenyataan. Dan lebih nyata lagi Herdyan telah memiliki cinta yang lain. Kini dia harus tegar berjalan, mencoba menemukan kepingan hidupnya yang hilang. Mencoba menemukan keceriaan yang dulu mengiringi harinya.

Sebenarnya sangat sakit saat Raga pernah mendapatinya menangis. Sebenarnya Rana sangat ingin memeluk lelaki itu dan menumpahkan tangisnya, namun apakah benar lelaki itulah yang disiapkan Allah untuknya. Wallahu a’lam bis shawab.

Jika memang lelaki setangguh Raga yang kelak mendampingi kehidupannya, mengapa Raga hanya terdiam saat menatapnya. Apakah Raga tak pernah ada hati untuknya. Apakah Raga tidak pernah merasakan tatapan hangat matanya. Sungguh suatu dilemma menanti sesuatu yang tak pasti. Menanti sesuatu yang tak dimengerti kapan datangnya. Sungguh menyesakkan menatap lelaki yang kerap dipujanya itu sendirian. Rana tahu pasti Raga belum memiliki kekasih semenjak putus dengan tunangannya. Namun bagaimana cara mendekati Raga. Rana merasakan pusing di kepalanya. Rasa yang tiap kali dialaminya itu membuatnya kerap ketakutan. Rana hanya tak ingin sendiri, Rana hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik yang selalu menemaninya.

Raga memang terlalu sempurna untuk mendampinginya. Masih terbayang paras tampan Raga dan kebiasaanya membaca Al Qur’an usai subuh dan magrib. Bukankah mereka dulu pernah begitu dekat. Bukankah mereka dulu pernah bercanda tawa tanpa beban. Bukankah dulu Rana sering mengatakan seandainya saja Raga belum bertunangan. Namun mengapa dia hanya terdiam saat Raga memutuskan hubungan pertunangan dengan Ajeng. Raga tentunya ingin seorang isteri yang selalu berada di dekatnya. Lalu, apa yang membuat Rana ragu untuk mendekati Raga.

Sungguh Rana tak ingin terluka kembali. Kisah kasihnya yang musnah bersama Herdyan membuat Rana ragu untuk melangkah. Ingin sekali dia membina rumah tangga seperti teman-teman sebayanya. Ingin sekali dia menimang bayi seperti teman-teman sebayanya. Namun siapa yang mau menikahinya. Paras Rana tidaklah secantik mereka. Hanya ketulusan hati yang dia punya. Hanya kesucian jiwa yang dia pertahankan.

Entah apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harusnya dia lakukan untuk menghapus segala kepedihan hatinya. Waktu berjalan begitu lambat dan terus mengoyakkan perasaannya. Airmata menjadi temannnya di siang dan malam. Rana benar-benar merasakan tekanan di hatinya. Rana tak tahu harus berbuat apalagi, serasa segala impiannya menghilang. Rana merasa terluka yang amat dalam. Pengharapan akan pertolongan Allah adalah satu-satunya yang membuatnya bertahan.

Sejenak Rana menghela napas dan mengakhiri bacaan Al Qur’annya. Dia harus kembali ke kantor dan bersikap professional. Hatinya yang terkoyak dan terluka harus kembali tersamarkan. Kesepian hatinya harus tertutupi oleh kepura-puraan. Sebenarnya dia sangat membenci itu, namun apalah yang bisa Rana lakukan. Hanya bersabar dan menunggu yang terbaik.

Rana melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dilihatnya Pujo, lelaki yang kerap dicomblangkan dengannya itu tengah berjalan melewati ruangannya. Tentu saja Rana tahu lelaki itu takkan mampu untuk mencintai Rana. Sekalipun semua orang menganggap antara mereka ada suatu hubungan special, namun sebenarnya tak ada satu hubungan apapun melainkan rekan kerja. Pujo, lelaki berperawakan tinggi yang merupakan anak tunggal itu tampak santai melihat Rana.

“Ya Allah, ini semua seperti mimpi buruk untukku. Terasa begitu berat dan menyesakkan. Sebenarnya hamba tak sanggup untuk menjalaninya. Jika saja bukan karena doa ibu mungkin hamba sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Ya Allah kuatkanlah hamba. Amin” pikir Rana

Sebenarnya telah banyak orang menanyakan kapan Rana akan menikah. Sungguh, Rana ingin sekali membina rumah tangga. Kesendiriannya di Jakarta memang telah membuatnya menjadi wanita mandiri, namun yang dia butuhkan adalah suami yang soleh. Kebanyakan orang berpikir bahwa Rana terlalu memilih-milih lelaki, padahal belum ada seorangpun yang melamarnya. Kalaupun ada, pada akhirnya dia mengundurkan diri. Rana tersenyum sendiri saat mengingat hubungan asmaranya dengan Herdyan, Rana sungguh berpikir pernikahan tinggal selangkah lagi. Namun kenyataannya itu hanya menjadi mimpi bagi Rana. Takkan pernah ada pernikahan antara Rana dan Herdyan.

Sekali lagi airmata itu kerap membanjiri hatinya. Kerapuhan yang hanya mampu dirasakan Rana telah meluluhkan pertahanannya. Cobaan yang dia lalui terasa sangat berat. Seandainya saja ada tempat untuk berbagi. Kenyataannya kesendirian itu semakin tampak jelas. Tiap kali dia bermain dengan dunianya sendiri. Terasa menyesakkan dan membuatnya terjatuh terlalu dalam.

Allah tentu tahu batasan ujian untuk hambaNya. Kesabaran yang harus Rana tempuh memang terlalu terjal. Rana berulang kali merasa berputus asa dengan segala yang ada. Rana berulang kali merasa tidak berarti. Rana berulang kali merasa terpojok dalam kesunyian. Rana, terlihat rapuh dengan segala ketegaran yang dimiliki.

“Ran…” tegur Yudha, rekan kerja yang duduk di sebelahnya.
“Hem, ada yang keasyikan melamun nih” Yudha menggoda wanita yang berbeda usia delapan tahun di bawahnya itu.
“Hehe…” Rana berusaha menepis kesedihan dari raut wajahnya.
“Kalau lagi sedih jelek banget loh”
“Bukannya emang aku engga cantik ya?”
“Yeee…gak boleh seperti itu”
“Jika aku cantik dan gak sombong, mungkin aku tak pernah kehilangan Herdyan”
“Lelaki model Herdyan itu yang gak bener. Sudahlah Ran, jangan suka menyalahkan diri sendiri”
“Aku merasa gak sanggup menjalani ini semua Mas”
“Hem… sama Pujo aja tuh”
“Kalau bercanda ada batasannya Mas”
“Maaf-maaf…wah mudah banget tersulut emosinya nih”
“Iya…lagi sensi tingkat tinggi”
“Hem… sudah kelihatan kok. Makanya aku bercandain biar engga terlalu terbawa emosi”
“Makasih Mas”
“Makasih buat apa? Toh ternyata aku gak bisa merubah mood kamu”
Rana mencoba tersenyum.
“Ya begitu dunk, jangan suka murung begitu. Gak baik”
“Iya Mas”
“Segala permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya”
“I need him. I just need him”
Yudha menggelengkan kepala sejenak. Wanita di sampingnya tampak serius membuka file di laptopnya. Ternyata wanita itu memiliki hati yang begitu rapuh. Setahu Yudha, wanita ini tak bisa mendengar orang berbicara kasar ataupun berbicara keras. Wanita yang menurut orang terlampaui mandiri ini banyak sekali kelemahan. Hanya saja wanita ini selalu hidup di dunianya sendiri, tak ingin menshare masalahnya. Rana selalu bilang, jika kebahagiaan bisa dibagi namun kesedihan tak pantas untuk dibagi.

Untuk orang yang seumuran dengan Rana memang Rana terlalu keras menghadapi kehidupannya. Pernah suatu ketika Rana menceritakan kondisi ekonomi keluargannya. Ternyata saat dia membiayai kuliahnya sendiri, Rana juga menghidupi keluarganya. Dari pekerjaannya yang memberikan bimbingan belajar keluarganya bisa makan dan dia pun bisa meneruskan pendidikan S1 nya. Kehidupannya begitu keras, wajar sekali dia sering terbawa emosi.

Rana memang pernah menceritakan bahwa di tahun ini dia telah mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali. Yudha terkadang merasa heran dengan lelaki yang meninggalkan wanita seperti Rana. Mungkin juga benar kata Rana, lelaki yang meninggalkannya bukanlah lelaki tangguh yang sangggup berada di sampingnya. Lelaki itu mundur karena melihat begitu terjalnya kehidupan Rana.

Rana memiliki hati yang tulus untuk mencintai. Rana sangat berperasaan, wanita ini tak pernah berniat menyakiti orang. Namun dalam kehidupannya seringkali dikecewakan. Sebenarnya tak tega melihatnya berputus asa seperti ini. Namun Yudha hanya mampu memberikan kata-kata pembangkit semangatnya kembali.
===========================================================

Malam menyisakan keheningan tak terhenti. Jam dinding menujukkan pukul tiga dini hari. Raga menengadahkan tangannya usai melaksanakan tahajud, “Ya Rabb, tunjukkanlah langkah yang harus hamba tempuh. Kirimkan jodoh terbaik untuk mendampingi hamba. amin”

“Ini loh calon isteriku” kata Raga.
Rana terbangun dari tidurnya dan beristighfar, “Ya Rabb …”
Bayangan Raga di mimpi belum juga terhapus dari ingatan Rana. Namun Rana segera mengambil wudhu untuk melaksanakan istikharah dan tahajud.
“Ya Allah hamba tak tahu apa yang seharusnya terjadi dan apa yang terbaik untuk hamba. Namun hamba percaya Engkau akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba.”
===============================================================

Yaa Rabb …
Pemilik segala hati, jangan biarkan diri ini terjatuh
Pemilik jiwa, berikan pendamping terbaik untukku
Pemilik kehidupan, kuserahkan segalanya ini pada-Mu

Yaa Rabb …
Sembuhkanlah segala luka di hati ini
Hapuskanlah kesedihan dan kepedihan yang kerap menghampiri
Berikan rahmat dan ridhoMu dalam setiap langkahku

Yaa Rabb…
Sungguh termasuk dzalim diri ini tanpa ampunanMu
Sungguh termasuk rugi diri ini tanpa kasihMu
Sungguh tak berdaya diri ini tanpa pertolonganMu

Yaa Rabb …
Di dalam sujudku ini kuhaturkan segala kelemahan dan kekhilafanku
Di dalam sujudku ini kumintakan dengan segenap hati
Pertemukanlah jodohku
Kesepian ini, kesedihan ini …..
Sungguh hanya padaMu kubermohon
Hanya dengan cintaMu aku sanggup bertahan

Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah
Wa qinaa adza banner

Amin yaa rabbal alamin ……

(Oleh : Eka Sulistiyowati)

Ditandai: ,
Posted in: Cerpen