Sa’ad bin Abi Waqash, Panah dan Doa Terijabah

Posted on 2 September 2014 oleh

0


persahabatanindahnyawordpresscom

Empat ribu kaum muslim syahid dalam sehari oleh angkatan perang Persia. Situasi yang tak terkendali dan penghianatan orang-oorang Irak terhadap pasukan kaum muslimin memaksa Amirul Mu’minin Umar Ibnu Khattab memutuskan berangkat sendiri memimpin pasukan di Qadisiyah.

Amirul Mu’minin menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakil pemimpin di Madinah. Belum lama berjalan, sebagian anggota rombongan yang diprakarsai Abdurrahman bin Auf mengusulkan agar Amirul Mu’minin kembali ke Madinah. Terlalu beresiko bagi pemimpin umat Islam berangkat ke medan perang sementara kondisi kaum Muslimin memerlukan banyak arahan.

Akhirnya dikumpulkan sahabat utama dan Amirul Mu’minin bermusyawarah dan Umar bersepakat untuk kembali ke Madinah. Umar kemudian menanyakan siapa kiranya yang akan berangkat ke Qadisiya dan memimpin pasukan?

Tiba-tiba Abdurrahman bin Auf berseru “Saya telah menemukannya..!” ‘Siapa dia?” tanya Umar. “Dialah Singa yang menyembunyikan kukunya, Sa’ad bin Malik az-Zahuri!”

Sa’ad bin Abi Waqash lebih dikenal sebagai salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Sa’ad masuk islam ketika berumur 17 tahun dan dia pernah berkata “Pada suatu saat saya beroleh kesempatan termasuk tiga orang pertama yang masuk Islam.”

Sa’ad memiliki banyak keutamaan disisi Rasulullah SAW. Suatu saat dia pernah disambut Rasulullah SAW dengan gembira dan sambil membangga-banggakan Sa’ad, sabdanya “Ini dia pamanku…! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?” itulah Sa’ad, kakeknya ialah Uhaib putra dari manaf yang menjadi paman dari Aminah, Ibunda Rasulullah SAW.

Selain itu Sa’ad adalah orang yang pertama kali melepas anak panah dalam Islam dan juga mula-mula terkena anak panah. Sa’ad juga mendapat keutamaan sebagai satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Bersabdalah Rasulullah SAW di perang Uhud:”Panahlah hai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu…!”

Ali bin Abi Thalib juga mengatakan:”Tidak pernah saya dengar Rasulullah menyediakan ibu bapakknya sebagai jaminan seseorang kecuali untuk Sa’ad!”

Sa’ad adalah seorang ksatria Muslim yang paling berani. Ia mempunya dua kekuatan yang sangat ampuh: panah dan doanya. Jika ia memanah maka pasti tepat sasaran, jika ia berdoa maka akan dikabulkan-Nya. Hal ini tak lepas dari doa Rasulullah untuk Sa’ad.

Suatu hari Rasulullah menyaksikan dari Sa’ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan mendoakan Sa’ad “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah doanya..!”

Demikian menjadi masyhur bahwa doanya makbul. Suatu hari, ketika fitnah di zaman Ali sebagai khalifah datang, Sa’ad mendengar seorang laki-laki memaki Ali, Thalhah dan Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu justru menolak. Maka Sa’ad berkata “Kalau begitu akan saya doakan kamu kepada Allah.” Laki-laki itu berkata “Rupanya kamu hendak menakutiku, seolah-olah kamu seorang Nabi.” Maka Sa’ad pun pergi wudhu dan melakukan shalat dua rakaat kemudian berdoa: “Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu, laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah peroleh kebaikan-Mu dan tindakan mereka mengundang amarah murka-Mu, maka mohon lah dijadikan hal ini sebagai pertanda dan pelajaran..”

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah muncul seekor unta liar dan menabrak laki-laki tadi hingga meninggal.

Sa’ad juga contoh bagi kita dalam hal istiqomah dalam iman dan hidayah. Betapa mahalnya hidayah itu bahkan harus kita gigit dengan geraham kita untuk tak melepaskannya. Terkisahlah ibunda Sa’ad yang melakukan mogok makan berhari-hari demi menentang keislaman anaknya. Semakin hari semakin parahlah kondisi ibu Sa’ad ini.

Dalam ujian keimanan yang berat seperti ini, keimanan Sa’ad kokoh menghujam dan keluarlah kalimat yang abadi itu “Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya bunda memiliki seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu tidaklah anakmu ini akan meninggalkan Agama ini walau ditebus dengan apapun.”

Akhirnya ibundanya mundur teratur dan turunlah ayat tentang kisah Sa’ad ini, “Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (QS Lukman : 15)

Diantara cerita kepahlawanan Sa’ad yang lainnya adalah ketika pasukan Muslimin yang dipimpinnya terhadang sungai Tigris yang belum banyak dikenal oleh kaum Muslimin. Bukan mundur dalam jihad, Sa’ad memerintahkan pasukannya untuk menyeberangi sungai. Berkatalah ia kepada pasukan, “Bacalah Hasbunallahu wa ni’mal wakiil.” kemudian dikerahkan kudanya menerjuni sungai yang diikuti orang-orang setelahnya. Maka berduyunlah pasukan Muslim menyeberangi sungai, ketika ada salah seorang prajurit menjatuhkan air minumnya, maka dilandasi semangat fastabiqul khairat, pasukan muslimin berebut mencarikan tempat air itu, dan gentarlah pasukan musuh melihat pemandangan ini.

Salman al-Farisi yang berada dalam pasukan Sa’ad pun takjub dan berkata “Agama islam masih baru, tetapi lautan telah dapat mereka taklukkan, sebagai halnya daratan telah mereka kuasai. Demi Allah yang nyawa Salman berada di Tangan-Nya, pastilah mereka akan dapat keluar dengan selamat dengan berbondong-bondong sebagaimana mereka memasukinya berbondong-bondong.” Dan benarlah perkataan Salman dapat kalahkan pasukan Persia dengan gemilang.

Saat Sa’ad mencapai usia lanjut, tibalah saat terjadinya fitnah besar yang menimpa kaum muslimin. Sa’ad tak hendak mencampurinya dan dipesankan kepada anak dan keluarganya. Suatu ketika datanglah anak saudaranya bernama Hasyim bin Utbah bin Abi Waqash dan berkata “Paman, disini telah siap seratus pedang yang menganggap pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan khilafah ini !”

Ujar Sa’ad “Dari seratus ribu bilah pedang itu, aku hanya menginginkan sebilah pedang saja, jika aku tebaskan kepada orang Mu’min maka takkan mempan sedikitpun, tapi jika aku pancungkan kepada orang kafir, pastilah putus batang lehernya!”

Mendengar jawaban ini, anak saudaranya maklum akan maksudnya dan membiarkan sikap damai pamannya dan tak hendak ikut campur.

Pada tahun 54 H, saat usia Sa’ad lebih dari 80 tahun, ia sedang berada di rumahnya di ‘Aqiq sedang bersiap menemui Tuhannya. Saat yang akhir itu diceritakan puteranya kepada kita. “Kepala bapakku berada di pangkuanku ketika ia hendak meninggal dan aku menangis,” maka berkatalah Sa’ad “Kenapa kamu menangis wahai anakku? sesungguhnya Allah tiada akan menghukumku, dan sesungguhnya aku termasuk salah seorang penghuni surga..!”

Inilah Sa’ad bin Abi Waqash, singa yang menyembunyikan kukunya, pemanah pertama dalam islam dan pahlawan Qadisiyah.

(Oleh : Republika Online)

Ditandai: , , ,
Posted in: Sahabat Nabi