Mualaf

Posted on 18 September 2014 oleh

0


persahabatanindahnyawordpresscom

Keherananku seketika memuncak, tak kala truk yang kami tumpangi tak kunjung sampai. Waw,,,,,,,hatiku berteriak (auw…auw…g juga gini kok man). Sejauh ini kah lokasi penempatan kami, ya, kami berenam. Untungnya tidak aku sendiri. Tadi ada sekitar 3 kelompok di truk ini, sekarang hanya sisa kelompok kami, dengan aku ketuanya. Hatiku tambah tidak karuan, ketika mengingat petugas kabupaten menurunkan salah satu kelompok sebelum kami di lokasi yang “serem”, bukan dalam artian horror tapi berkesan “religi”…(saking seremnya tu acara) tidak ada tanggapan dari warga sekitar, jadi pada saat truk telah bergerak, teman-teman kami yang malang tersebut hanya bertemankan aspal dan beberapa anjing yang siap mengejar,,hehehe. Jadi kok kayaknya kami-kami itu orang-orang yang tidak diharapkan, kan aneh…..

Ya, sungguh aneh, kami disini dikirim resmi dan formal (sama aj mbah) langsung dari ketokan bapak rektorat universitas terbesar di provinsi ini. Jadi ketika kami datang dengan keletihan tiada terkira, bagaimana tidak letih, kami harus menempuh perjalanan sehari semalam di atas kapal yang melaju di aliran sungai-sungai besar tanpa berhenti. Ditambah kondisi kamar mandi (maaf) kurang berkesan, gimana mau berkesan, belum sempat nyanyi udah di gedor oleh anggota kelompok lain. Sekitar 25 kelompok yang beranggotakan sedikitnya 5 orang harus berebut 4 kamar mandi, bagaimana mau tenang dan tentram,hehehhehe.

Jalan tanah berdebu-debu intan (cepat kaya ni warga) ditambah rindangnya pohon-pohon sekitar sampai-sampai ada dahan yang nyangkut di kepala-kepala yang tak mau tunduk, saking penasarannya ama tujuan.
Duh,bener,,,,,,bener lapar,,,,,,jauh, matahari terik, truk semakin kencang melaju, namun sungguh tak kunjung sampai, letih sudah raga (sok puitis dikit).

Pelan-pelan aku menempelkan telinga pada kaca belakang truk, aku mendengar obrolan ibu dan bapak petugas serta sang supir yang sepertinya sedang kebingungan juga,,,,alamak! Jantung ku berdebar kacau tanpa irama (mati dong?) kutatap wajah teman-teman sekelompokku, mereka mulai letih, baru datang tadi, kami bergembira sekali, apalagi tau akan naik truk, loncat-loncat, tindih-tindih (tanpa omen=satu-satunya anggota lelaki), jepret-jepret ga karuan, bikin iri kelompok lain yang melihat kekompakan kami. Padahal liat hasil jepretan, kami udah kayak sekumpulan hewan kurban (ups,,,,maaf teman)

“Gubrak” seketika truk berhenti mendadak, wajah kami tak kalah putih dengan awan, dengan lambat truk berjalan turun, kondisi jalan yang kutengok semakin hancur, dari aspal, batu, tanah, hingga tanah campur air, sungguh tak layak memang. Truk melewati sebuah jembatan reyot yang dibawahnya mengalir sungai kecil berair jernih, dengan gemerisik alunan air terjun, cukup besar sepertinya, namun jauh. Batu-batunya tampak berkilau, tersusun manis, bagai dayang-dayang penyambut kami. Keletihan kami memudar, dengan senyum tersungging malu di kiri kanan truk, kami memperhatikan keindahan sekitar bagai siswa sd yang berjejer rapi di kelas…maksudnya di truk. Daerah ini memang terkenal dengan jantur, sebutan untuk air terjun. Info yang aku dapat ketika mengikuti pembekalan di kampus 3 minggu lalu, serta udaranya masih jauh dari hiruk pikuk kota, pokoknya, gambaran yang kudapat sungguh indah.

Desa yang menawan, begitu pikirku waktu itu. Untungnya aku dan kelompokku dapat di daerah dataran tinggi, bahkan kata salah satu temanku jika siang hari, kabut masih terlihat, apalagi kalau musim penghujan tiba.

Wah,,,dinginnya,makyos buat bermesraan dengan bantal.

Akhirnya truk berhenti, aku melihat ibu petugas turun dan memasuki salah satu rumah warga. Tak lama kemudian ibu keluar dengan di ikuti seseorang lelaki dengan taksiran usia 35 tahun keatas, tinggi, dengan kulit gelap dan wajah kurang ramah sebenarnya yang menggeret motor tua jenis win itu.

Dengan bahasa setempat mereka mengobrol sebentar, “di, apa tuh artinya” tanyaku pada salah satu anggotaku yang memang berasal dari daerah ini, walau lain kampung katanya. “nda denger, aku dari tadi ngeliatin buah jambu tu ama ata, kayaknya tar xampe mencokan yok” dina sudah menghayal sejauh itu sebelum sampai. Akhirnya truk benar-benar berhenti, setelah sempat berjalan lambat menaiki tanjakan yang cukup tinggi dan tetap dengan kondisi jalan tanah liat, itu julukan ku. Supir segera membuka pintu belakang truk agar kami bisa segera menikmati udara kebebasan (serasa napi ya bu?), satu persatu kami turun, yang terakhir aku dan omen. Kami bergotong royong mengeluarkan barang-barang yang tidak sedikit, apa lagi barang ata, sempat aku menggerutu, tapi ata celetuk “isinya coklat ibu ketua, jangan marah-marah” sebutan ata padaku sejak turun dari kapal. Mau tak mau senyum kusimpul, lumayan dapat cokelat lezat bertabur kacang renyah di setiap gigitan ……..kok ngiklan,,,?,,,. Tapi kok cokelat berat nta tolong gini y, kecurigaan ku jadi timbul, ata ata.

Saat turun, bapak dan ibu petugas pamit undur langkah hehehhe, maksudnya mereka mau segera kembali dan menyerahkan semua pada bapak yang tadi pake win itu, “ bapak rt atau kepala desanya mana bu?” belum sempat mereka menjelaskan, aku sudah seenaknya memotong, sayur kali, sifat kurang sabarku terlihat lagi

“saya kepala kampungnya, bapak maskum” bapak bermotor win mengenalkan diri sambil mengulur tangan berototnya padaku. Sungguh malu aku, mungkin merahnya wajahku melebihi merahnya bendera. Bapak dan ibu petugas hanya tersenyum mengulum permen,,,ihhh….kemudian mereka pamit pada teman-temanku yang lain dan terakhir dengan bapak maskum sambil berkata “ titip 6 mahasiswa ini ya pak”, kemudian mereka berlalu bersama truk mengepul debu tanpa intan lagi. “unya nyaman koi?”(*) bapak maskum menyengir lebar dan aku hanya terpaku gagu

**********

4 hari setelah kedatangan kami di kampung ini, bapak maskum menolak waktu kukatakan desa, ntah mengapa. Tidak ada masjid, suara adzan berganti suara gonggongan anjing, dan posko tempat tinggal kami tanpa sekat pemisah, sehingga untuk berganti baju saja kami harus ke kamar mandi sebelah posko.

Tanpa plafon, langsung atap saat melihat ke atas. Dan pelengkapnya adalah tepat di depan posko adalah kantor kepala desa (lah,enak) bukan itu tapi, dibelakang kantor adalah makam para tetua di kampung. Merinding euyyy kaloo dah malam. Ya, 99% warga beragama non muslim, mana pernah aku melihat warga yang mengenakan jilbab atau kopiah, kecuali bule sayur yang katanya seminggu sekali datang berjualan. Ditambah udara dingin, jadilah aku menamatkan subuhku, walau hp dan ani trus membangunkanku, salah satu anggota yang berjilbab.

“Arghhhhhhhh” sekian kalinya aku menggeram ketika ada beberapa anak babi mendekati piring-piring yang hendak kucuci, bener-bener kacau dah. Anjing-anjing bebas berkeliaran, sehingga ketika bapak maskum meminjamkan peralatan memasaknya pada kami, aku dan ani harus menjelaskan panjang lebar pada dina dan ata mengapa kami hendak mencuci peralatan dengan tanah, padahal malam telah menjelang. Omen ditemani devi harus mencari tanah yang kira-kira cukup aman dari usikan hewan tersebut, sedangkan aku dan ani berusaha mencuci bersih-bersih peralatan yang tidak kotor tersebut. Di dan ata asyik masgul memandang kami berjoget dengan panci, wajan, dan beberapa piring.

**********

Aku heran, ketika hampir sebulan di sini, ada sesuatu yang membuat hatiku sepi. Jauh dari rumah dan ortu sudah biasa kuhadapi, tapi ini sungguh lain. Padahal hampir seluruh warga dan pemuda telah kukenal, dan kami akrab layaknya kenalan lama. Tak jarang salah seorang menjemputku untuk menghadiri hajatan warga, meskipun ketika menyantap makananku, satu atau dua anjing dengan santai lewat di depan ku. Ya, mereka hewan yang bebas keluar masuk rumah siapa saja di sini, sepertinya. Bahkan hampir tiap malam aku ikut ribut dalam obrolan pemuda, hanya pemuda tanpa perempuan, di atas gorong-gorong di tengah-tengah jalan kampung hingga larut malam.

Walau pada saat awal, mereka ditemani oleh miras, kini semenjak aku ikut, miras itu mereka simpan hingga aku pulang, begitu kata mereka. Edan memang. Sebenarnya ani melarang, begitupun omen yang mewanti-wanti, tapi aku bersikeras dengan alas an, sebagai ketua aku harus bisa membuat para pemuda kampung dekat dengan kami, sehingga ketika ada kegiatan di kampung mereka dapat berperan aktif. Ani hanya berkata “ terserah kamu fa, kita udah sama-sama dewasa, tau mana yang baik n kagak” walau kemudian kelakuanku semakin tak terbendung, hampir tiap malam aku meninggalkan posko, hingga jam 2 dinihari aku baru pulang. Shalat lima waktuku benar-benar payah, al-quran kecilku, milik kakak perempuanku hanya terdiam bisu di dalam tas ranselku dipojok posko.

**********

Hingga suatu hari, saat aku sedang mencuci pakaianku yang telah terendam selama 2 hari, mungkin dah jadi bubur kalau saja ani tidak mengingatkanku yang super pemalas ini, seorang pemuda melintas pelan di depan posko. Aku tidak mungkin tidak mengenal wajah para pemuda, hampir tiap hari aku berpapasan dengan mereka, bahkan akrab bagai saudara. Tapi pemuda ini benar-benar asing. Sekilas dia menengok posko, berhenti sejenak sambil membenarkan letak tali ranselnya, dan mengamati tulisan di spanduk posko kami, matanya berpindah kepadaku, dengan gagap aku tersenyum terhenyak. Dia tidak membalas dan berlalu dengan santai

“wuihhhhhhh,,,,,ada yang sombong ni di kampung” teriakku pada teman-teman yang sedang gotong royong masak untuk makan siang. Omen menoleh sebentar, dan asyik lagi dengan buncis layu ditangannya.
“siapa mi?” suara cempreng devi menyahut.

“tadi ada pemuda kampung, masa di kasi senyum tapi di sia-siakan, lewatttt aja. Dah belur ni bibir tiap baru bangun tidur nonstop sampai mau tidur malam nyajiin senyum manis kesemua warga, tapi yang tadi aku dilewati” geramku. Ani tertawa mengikik diikuti dengan candaan ata “ iya, mungkin senyum mu kayak dogi-dogi pengen nyamber kali,,,tiap hari temennya dogi” sebutan ata pada anjing-anjing setia di posko kami ini. Dengan wajah cemberut aku meninggalkan mereka.

Pantang aku, erfa erliyana, ketua kelompok yang disenangi pemuda-pemuda dipermalukan begini. Dengan jins pendekku dan kaos ombreng merek terkenal, aku mengikuti jejak pemuda tadi. Aku mau kenalan pokoknya

*********

Namanya ibrahim, nama salah satu Nabi. Ternyata dugaanku salah, dia ramah dan lembut, penyayang, senyumnya tulus. Aku terpana ketika dia mengenalkan dirinya dengan mengucap salam sebelumya, dia islam. Ditempat ini, ada muslim, 99% agama noni** semua. Aku terperangah, wajahku benar-benar terkejut dan dia hanya tersenyum. Dia muallaf, ibu dan adiknya masih noni**. Dia tampan,.

Hampir tiap malam aku memikirkannya, bukan, aku tidak jatuh cinta. Belum tepatnya. Aku takjub, hampir satu bulan lebih aku hidup dan berusaha untuk beradaptasi dengan warga non muslim, aku yang dibesarkan di keluarga murni islam, walau aku sedikit kacau balau dengan agama, harus ditemukan pada kondisi tanpa masjid dan suara adzan. Dan aku menemukan jarum ditumpukan jerami, lebih tepatnya baim, panggilan ibrahim.

Aku berubah drastis sejak mengenal baim, ajakan jalan Stephen, salah satu pemuda yang amat dekat denganku untuk keluyuran malam kutolak. Aku lebih memilih menghabiskan waktu sesudah isyaku dengan khusyu mendalami ayat-ayat al-quran kecilku yang telah berdebu ketika kutemukan sebagai pengganjal peralatan mandiku. Aku menangis mendengar alunan ayat-ayat al-quran keluar dari mulutku. Sebelum ani bangun subuh, aku telah asyik dan nikmat bersama al-quran miniku. Teman-teman seposko tidak banyak berkomentar, mereka lebih memilih berkonsentrasi dengan kegiatan kampung yang semakin menumpuk deadlinenya.

“ajari aku islam fa” permintaan baim membuatku terpaku, aku, erfa erliyana, ketua kelompok yang kerjaannya keluyuran malam dengan pemuda kampung, meninggalkan shalat, menindih al-quran dengan barang-barang lain, dan bahkan berteriak-teriak pada mama ketika beliau hanya bercanda lewat telepon selular menolak permintaanku untuk mengirim uang saat kantungku masih tebal.

Senyum tulus baim, kesederhanaannya, keluarganya yang juga amat kusayangi, kecerdasannya, tanpa kuketahui sebelumnya baim adalah mahasiswa di kotaku juga. Walau lain universitas, bahkan baim berencana melanjutkan program magisternya, baim yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja berusaha keras berdiri dikakinya sendiri dengan kuliah sambil bekerja. Baim yang mandiri, baim yang baik hati, beribu kekaguman kupendam untuk baim.

*********

“aku sayang kamu fa” sms baim menghentakku, jam menunjukkan pukul 02.00 malam kurang 15 menit, tanpa pikir panjang dengan langkah pelan aku berjingkat membuka pintu posko, dengan hati-hati kuangkat pintu yang berderit ini agar yang lain tidak mendengar. Baim berdiri tepat di bawah tangga posko, sekitar 70-80 meter jaraknya dariku. Baim bagai muslim sejati, kopiah putih lengkap dengan kemeja lengan panjang hijau muda serta sarung sederhana peninggalan almarhum bapaknya, yang pernah diceritakannya padaku. Wajah baim sedikit terkejut,

“maaf fa, bangunin kamu” dengan segera baim berlalu pergi meninggalkan aku dan menoleh sekejap “ shalat tahajud bareng yuk fa ”. Aku melangkah cepat, membasuh wajah hingga kaki dengan air yang menusuk hingga tulang dan dengan cepat mematikan kran air yang berjarak 60 meter dari posko. Baim telah menghilang bersama pekatnya jalanan tanah liat yang gelap.

*********

Baim serius, dia berangan indah tentang kami. Tak terasa masa kegiatan tinggal 1 minggu lagi. Baim ingin suatu hari nanti kami melanjutkan program doktor bersama. Semakin kuat perasaan baim padaku, tidak demikian denganku. Perasaanku tak pudar, tapi memang tak ada untuknya. Aku sadar, aku tak pantas untuk seorang baim. Aku hanya erfa, erfa erliyana yang membentangkan dunia gelap tanpa ingat agama. Bagaimana mungkin aku membawa baim, muallaf yang butuh tempat belajar islam, ke dalam masa laluku yang kelam. Aku tak sanggup, aku tak mungkin membawa baim dan keluarganya kedalam konflik keluargaku yang baru saja aku ketahui 4 hari lalu.

Aku tak bisa membiarkan baim menghadapi kerasnya watak papa dan sejumlah kerabat lainnya yang merupakan turunan militer. Baim tak sekuat aku, baim hanya pemuda sederhana yang berstatuskan islam di kampung yang kental dengan lonceng gereja, baim seorang yang cerdas tanpa bapak dan punya tanggung jawab pada ibu dan adik-adiknya, baim hanyalah teguran keras untukku, dari Illahi. Muallaf yang membuatku sadar betapa beruntungnya aku yang hidup dikeluarga muslim dengan lingkungan yang kondusif.

*********

Langkah ku berat ketika harus mengikuti perintah sam, koordinator wilayah untuk kegiatan ini. Kapal akan berangkat 10 menit lagi, tapi hatiku berat meninggalkan daerah ini. Dimana kudapat sesuatu yang tak kudapat dirumahku. Baim tak ada, tak akan ada lagi. Semalam sebelum kepergianku, ketika baim mengajakku untuk “kencan” saat kelak dia telah berada di kota ku pula, ku tolak.

“ tak ada istilah kencan dalam islam im, islam punya wadah bagi yang hendak menjalin hubungan sekedar teman. Aku bukan muslimah sejati saat ini, tapi bagiku tak ada hubungan pacaran dalam kehidupanku” jelasku pendek pada baim saat dia memintaku untuk menjadi pacarnya. “ im, carilah wanita lain. Yang muslimah dan baik, aku ini jelek dan buruk, baim tau?beberapa malam terakhir aku berdoa baim dapat seseorang yang baik yang bisa menuntun baim ke islam yang benar” kacau hatiku ketika mengatakannya, wajah baim tanpa ekpresi ketika mendengarnya “ aku hanya mau sama kamu fa, aku mau kamu apa adanya”, aku berlalu meninggalkan baim dan harapannya. Hatiku pecah seketika, aneh dan entah mengapa, sebelumnya aku begitu yakin tak memiliki rasa terhadap baim.

*********

Hpku berdering pelan, menandakan hanya sebuah sms yang masuk ke hpku. Aku kembali melanjutkan bab 3 skripsi ku, aku tak ingin terlambat hanya karena sebuah sms. Ketika tengkukku telah mulai kaku, aku membaringkan diri di kasur empuk dinginku, hampir lupa, aku segera membuka sms yang masuk sambil memperbaiki jilbab yang kukenakan dan meraba al-quran di laci atas bufetku.

Walimahan annisa nurjannah dengan ibrahim ismail bertempat di jln kemangi gang 5 tgl 21 maret pukul 11 sampai selesai.

Tulisan sms itu tidak berbunyi lirih seperti saat masuk, tapi lirih isak tangisku dari kecil menjadi semakin keras. Kusapu air mata dengan ujung jilbabku, Hatiku pedih, tapi kenapa?bukannya aku berdoa untuk baim yang terbaik, apalagi kulihat wajah manis berjilbab yang bersanding dengan wajah baim masuk dalam inbox mms ku, ini kan yang aku mau. Baim dapat wanita muslimah sejati. Karena baim yang seorang muallaf, aku sadar dan aku malu pada Allah atas perilakuku selama ini sehingga aku berusaha kembali kejalan_Nya.

Baru kusadari,tepat saat sms kubaca dan tepat saat terlambat.
Aku cinta baim karena ALLAH SWT…………..

 

NB:

1. (*) Unya nyaman koi? = sapa nama kamu (bahasa dayak tonyoi)
2. (**) Noni = Non Islam

(Oleh : Rahmi)

Posted in: Cerpen