Merenungkan Arti Harta Kekayaan

Posted on 8 November 2014 oleh

0


persahabatanindahnyawordpresscom

Banyak orang mengejar harta sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara. Mereka menganggap dengan harta melimpah, akan merasa aman, bergengsi, dikagumi banyak orang, dan berbahagia oleh karena apa saja keinginannya terpenuhi dengan mudah. Tetapi, apakah yang demikian itu benar-benar terjadi. Tentu, masih perlu dilihat dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Pandangan yang mengatakan dengan harta yang melimpah, segala sesuatu yang diinginkan menjadi mudah didapat, tentu tidak akan ada orang yang membantahnya.

Buktinya, dengan harta kekayaan orang bisa membeli apa saja. Rumah, mobil, dan apa saja yang diinginkan. Selain itu, orang lain akan menghormati, menghargai, mendekat, dan bahkan jabatan atau kedudukan bisa diperoleh dengan mudah.

Maka pantas, orang dengan caranya masing-masing, mengejar harta. Ada sementara orang mencari harta dengan bertani, berdagang, mengeksploitasi tambang, melaut, beternak, mengejar jabatan, dan bahkan lewat carta-cara yang tidak pantas, misalnya korupsi.

Selain itu, orang mencari harta bukan sebatas yang dibutuhkan, melainkan hingga tanpa batas, sampai disebut tamak. Kekayaannya tidak saja sebatas untuk memenuhi kebutuhan selama hidupnya, bahkan akan digunakan untuk sekian banyak keturunannya.

Dalam hal mencari harta, orang tidak mengenal batas-batas tertentu. Semakin kaya, seseorang semakin ingin menambah lagi. Mereka belum puas, manakala belum menguasai semuanya. Bahkan, semangat itu baru akan berhenti setelah yang bersangkutan dimasukkan ke liang kubur.

Tidak ada orang yang merasa cukup dengan sejumlah harta yang dimiliki. Nafsu mengumpulkan harta, bagaikan seseorang minum air laut. Semakin banyak air yang diminum, yang bersangkutan semakin merasa haus.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan harta, seseorang pasti selamat dan menjadi semakin bahagia. Jawabnya tidak pernah pasti. Orang kaya yang jujur, selalu memenuhi hak-hak orang lain atas harta kekayaan yang didapat, tidak mau menerima kecuali yang baik dan halal, selalu menganggap harta itu milik Allah yang dititipkan kepadanya, maka yang bersangkutan akan mendapatkan manfaat dari harta yang dikuasainya.

Sebaliknya, bagi orang yang dalam mendapatkan harta dilakukan dengan cara-cara atau memperlakukannya dengan tidak benar, misalnya tidak mempedulikan kehalalannya, melupakan hak orang lain atas harta yang diperoleh, maka mereka tidak akan memperoleh nilai apa-apa dari kekayaannya itu.

Orang semacam itu justru akan celaka. Harta kekayaan yang diperoleh dengan cara mencuri, merampok, mengurangi timbangan, korupsi, dan lain-lain akan mencelakakan pemiliknya sendiri.

Akhir-akhir ini banyak kasus yang terkait dengan cara mendapatkan harta secara tidak benar, hingga menjadikan nama pemiliknya jatuh dan sengsara. Berita tentang penjara yang berisi para mantan pejabat, pengusaha, mantan wakil rakyat, dan lain-lain semakin penuh sesak, sehari-hari muncul di media massa.

Seolah-olah berita-berita buruk yang mengerikan itu tidak berhasil ditangkap dan menjadikan jera para petinggi atau orang penting bangsa ini. Oknum jaksa, hakim, wali kota, bupati, gubernur, menteri, pimpinan BUMN , polisi, dan bahkan juga pimpinan perguruan tinggi, dan lain-lain, hanya karena memburu harta haram, mereka ditangkap dan kemudian diadili, dan akhirnya dipenjarakan.

Harta kekayaan tatkala diperoleh secara tidak benar, tidak saja mendatangkan siksaan di akherat kelak, melainkan juga di dunia. Pemiliknya dihujat, dicaci maki, dipenjara, dan fotonya diserupakan tikus.

Oleh karena itu fungsi kekayaan tergantung cara memperolehnya. Jika tidak diperoleh lewat jalan yang halal, benar, atau yang baik, akan mencelakakan pemiliknya sendiri, keluarga dan kawan-kawannya.

Kita bisa membayangkan, alangkah gelisah, menderia, malu, dan berat menanggung sakit hati bagi orang-orang yang menjadi tersangka kasus-kasus korupsi, baik yang sudah terkena hukum tetap maupun bagi mereka yang masih berstatus tersangka.

Jabatan dan begitu juga harta kekayaan ternyata tidak selalu mendatangkan keselamatan, apalagi kebahagiaan. Anehnya, oleh karena daya tarik keduanya yang sedemikian luar biasa kuatnya, banyak orang terjerembab di tempat itu.

Siapapun berpeluang ditaklukkan nafsu itu, baik mereka yang berpendidikan tinggi, berumur, dan berpengalaman panjang. Sementara orang menganggap harta dan kuasa akan menyelamatkan dan mendatangkan kebahagiaan. Namun kenyataannya, justru celaka dan sengsara hidupnya, akibat terlalu mencintai keduanya itu. Hubbulmal wa hubbuljah, jika tidak berhati-hati, akan mengantarkan siapapun pada kesengsaraan dan atau derajatnya jatuh serendah-rendahnya.

(Oleh : Prof Imam Suprayogo)

Ditandai: ,