Kisah Dua Sahabat Nabi Yang Menolak Jabatan

Posted on 13 Desember 2014 oleh

0


persahabatanindahnyawordpresscom

Khalifah Umar bin Abdul Aziz hatinya gundah. Semalaman dia tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan siapa gerangan yang layak diangkat menjadi hakim di Basrah. Sebagai penguasa, dia harus memastikan bahwa orang yang kelak menduduki kursi jabatan itu harus benar-benar sanggup berdiri tegak di atas keadilan. Menemukan pejabat negara yang tahan ujian dan tidak gila pujian sungguh tidak mudah.

Lama merenung, pikirannya akhirnya tertambat pada dua nama yang dipandang memenuhi fit and proper test sebagai seorang hakim. Kedua sosok itu dikenal tegas dalam kebenaran dan cemerlang dalam pemikiran. Kepada wakilnya, Adi bin Arthah, khalifah lantas memerintahkan supaya dipanggilkan kedua nama itu. Mereka adalah Iyas bin Muawiyah Al-Muzani dan Al-Qasim bin Rabiah Al-Haritsi.

Setelah kedua calon itu menghadap, khalifah lantas menjelaskan maksudnya. Namun, masalah tidak segera tuntas, karena keduanya saling mengunggulkan rekannya. Iyas berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tolong Anda tanyakan tentang diriku dan Al-Qasim kepada dua ulama fikih di Irak, yaitu Hasan Al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, karena keduanya paling mampu membedakan antara kami berdua.”

Iyas berkata begitu karena tahu bahwa Al-Qasim adalah murid kedua ulama terkenal itu. Dia sendiri tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Tetapi, Al-Qasim sudah menangkap ke mana arah pembicaraan Iyas. Al-Qasim yakin, jika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai berunding dengan kedua gurunya itu, pasti mereka akan memilih dirinya, bukan Iyas.

Segera Al-Qasim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, jangan Anda tanyakan tentangku pada siapa pun. Demi Allah, Iyas ini orang yang lebih paham tentang agama Allah dan lebih mampu menjadi hakim daripada aku. Bila aku berbohong dalam sumpahku ini, maka Anda tidak pantas memilihku karena itu berarti Anda memberikan jabatan kepada orang yang cacat. Bila aku jujur, Anda tidak boleh mengutamakan orang yang lebih rendah, sedangkan di sini ada yang lebih utama.”

Mendengar itu, Iyas tidak kurang akal. Dia lalu berargumen, “Wahai Amirul Mukminin, Anda memanggil orang untuk dijadikan sebagai hakim. Ibaratnya, Anda sedang meletakkan orang itu di tepi jahanam. Karena itulah Al-Qasim hendak menyelamatkan diri dengan bersumpah palsu, yang bisa dia tebus dengan meminta ampun kepada Allah, sehingga selamatlah dia dari apa yang ditakutkannya.”

Apa jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikenal adil dan zuhud itu? “Iyas, orang yang mampu berpandangan mulia seperti dirimu inilah yang pantas untuk diangkat menjadi hakim.” Lalu diangkatlah Iyas sebagai hakim di Basrah. Kelak, sejarah mencatat Iyas Al-Qadhi sebagai hakim yang bijaksana dan jujur. Selama menjabat hakim di Basrah, dia mampu memutuskan setiap masalah yang rumit secara cerdas dan sederhana.

(Oleh : M Husnaini)

Ditandai: , , ,
Posted in: Sahabat Nabi