Kisah Pengrajin Emas dan Pengrajin Kuningan

Posted on 19 Desember 2015 oleh

1


image

Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, karena ini diwariskan secara turun-temurun.

Sudah banyak pula barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka. Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar, demikian mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-barang logam itu, sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan.

Beruntunglah, pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud memborong barang-barang yang ada di sana. Kabar ini membuat mereka senang. Tentu saja, berita ini akan membuat semua pedagang memproduksi lebih banyak barang yang akan dijajakan.

Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya napas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang siap dijual.

Hari pasar makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota. Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan.

Sayangnya, ada pemandangan yang mencolok di antara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi. Seakan membuatnya dengan tergesa-gesa.

“Ah, biar saja,” demikian jawaban yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan mengapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang lebih banyak darimu.”

Pengrajin kuningan, hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam kuningan, membuat perhiasan buatannya tampak lebih bersinar.Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh perhatian pada perhiasan emas buatan pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi, lalu melihat-lihat cincin dan kalung kuningan.

Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, kerajinan emas itu tidak cukup membuat mereka tertarik, dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan
di hari pasar itu. Pengrajin emas tertegun diam, dan pengrajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu. Ketekunan adalah bagian dari proses keberhasilan. Sesuatu yang dikerjakan dengan tekun, akan menghasilkan sesutu yang lebih baik dan lebih bernilai daripada dikerjakan dengan tergesa-gesa.

(Oleh : Intisari Online)

Iklan